BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Eric Berne (1910-1970) kelahiran Montreal, Canada, adalah pelopor
Analisis Transaksional (AT). Ia mulai mengembangkan AT ini sebagai terapi
ketika ia bertugas dalam Dinas Militer Amerika Serikat dan diminta untuk
membuka program terapi kelompok bagi para serdadu yang mendapat gangguan
emosional sebagai akibat Perang Dunia ke-2.
Berne, pada mulanya adalah seorang pengikut Freud dan melakukan
praktik Psikoanalisis dalam terapi. Sebab, saat itu psikoanalisis tengah
mendapat perhatian yang luar biasa. Bahkan Berne sendiri pernah mendapat kuliah
psikoanalisis di Yale Psychiatric Clinic (1936-1938) dan New York
Psichoanalitical institute (1941-1943).
Analisis transaksional berevolusi dari ketidakpuasan Berne dengan
lambatnya psikoanalisis dalam menyembuhkan orang-orang dari masalah
mereka. Setelah Berne berhenti bekerja pada Dinas Militer, Berne mulai
melakukan eksperimen yang sungguh-sungguh. Akhirnya pada pertengahan tahun
50-an barulah ia memperkenalkan teorinya, Analisis Transaksional. Diluar dugaan,
teori ini mendapat sambutan baik dari kalangan ahli terapi kelompok, dalam
pertemuan Regional Perhimpunan Terapi Kelompok Amerika di Los Angeles tahun
1957 teori ini diangkat sebagai salah satu tema yang dibahas. Tentu saja AT
mulai mengundang ingin tahu banyak orang dengan prinsip-prinsip yang
dikembangkannya. Prinsip- prinsip yang dikembangkan oleh Eric Berne dalam
analisis transaksional adalah upaya untuk merangsang rasa tanggung jawab
pribadi atas tingkah lakunya sendiri, pemikiran logis, rasioanal, tujuan-tujuan
yang realistic, berkomunikasi dengan terbuka, wajar, dan pemahaman dalam
berhubungan dengan orang lain.
B.
Rumusan Masalah
Adapun
rumusan masalah dari penulisan makalah ini adalah :
1.
Apakah pengertian Analisis Transaksional?
2.
Bagaimana hakikat manusia?
3.
Apa asumsi Dasar?
4.
Apa saja teori Kepribadian?
5.
Apa saja tujuan Konseling?
6.
Bagaimana peranan dan fungsi terapi?
7.
Bagaimana hubungan Konselor-Klien?
8.
Bagaimana proses Konseling?
9.
Apa saja teknik-Teknik Konseling?
C.
Tujuan
Adapun
tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memecahkan atau menjawab
pertanyaan yang ada pada rumusan masalah sebagai berikut:
1.
Untuk mendeskripsikan apakah pengertian Analisis Transaksional
2.
Untuk mendeskripsikan hakikat manusia
3.
Untuk mendeskripsikan asumsi Dasar
4.
Untuk mendeskripsikan saja teori Kepribadian
5.
Untuk mendeskripsikan saja tujuan Konseling
6.
Untuk mendeskripsikan peranan dan fungsi terapi
7.
Untuk mendeskripsikan hubungan Konselor-Klien
8.
Untuk mendeskripsikan proses Konseling
9.
Untuk mendeskripsikan teknik-Teknik Konseling
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Analisis Transaksional
Eric Berne (1910-1970) seorang psikiatris dan psikoanalisis,
mendapatkan gelar M. D dari MCGill University di Montreal pada tahun 1953, dan
menyelesaikan pendidikan spesialis psikiater di Yale university. Pada
tahun 1964 buku pertamanya Games People Play (permainan yang dimainakn orang)
menjadi buku terlaris seacara internasional. Pada saat yang sama pendekatan
terapeutiknya yang baru, yang mencerminkan ditinggalkannya psikoanalisis secara
radikal, menjadi popler secara luas di tahun) 1960an (corey, 1995: 373). Berne
mengembangkan dasar teori ananalisis transaksional pada tahun 1950an.
Penemuannya tentang status ego disadari sebagai fase pertama dari sejarah
perkembangan analisis transaksional. Penemuan teori tersebut berdasarkan
eksperimen-eksperimen neorulogi yang menyatakan bahwa status ego yang
dialaimnya individu berbeda lewat stimulus.
Secara singkat Berne mendefinisikan pengertian dari analisis
transaksi sebagai: “Ein Transaktions-Stimulus plus eine Transaktions-Reaktion”
(Joines dalam Eschenmoser, 2008:23).
Pernyataan ini berarti bahwa sebuah transaksi terdiri dari sebuah stimulus dan
sebuah reaksi. Dengan kata lain, syarat terbentuknya sebuah transaksi adalah
adanya hubungan timbal balik antara stimulus yang diungkapkan penutur dan
respon yang diungkapkan oleh lawan bicaranya. Analisis Transaksional adalah
salah satu pendekatan Psychotherapy yang menekankan pada hubungan
interaksional. Transaksional maksudnya ialah hubungan komunikasi antara
seseorang dengan orang lain. Adapun hal yang dianalisis yaitu meliputi
bagaimana bentuk cara dan isi dari komunikasi mereka. Dari hasil analisis dapat
ditarik kesimpulan apakah transaksi yang terjadi berlangsung secara tepat,
benar dan wajar. Bentuk, cara dan isi komunikasi dapat menggambarkan
apakah seseorang tersebut sedang mengalami masalah atau tidak.
Analisis Transaksional dapat dipergunakan untuk terapi individual,
tetapi terutama untuk pendekatan kelompok. Analisis transaksional berfokus pada
keputusan-keputusan awal yang dibuat oleh klien dan menekankan kemampuan klien
untuk membuat keputusan baru. Analisis Transaksional (AT) merupakan psikoterapi
transaksional yang dapat digunakan dalam konseling individual, tetapi lebih
cocok digunakan dalam konseling kelompok. Analisis Transaksional melibatkan
suatu kontrak yang dibuat oleh klien, yang dengan jelas menyatakan
tujuan-tujuan dan arah proses konseling. Analisis Transaksional berfokus pada
keputusan-keputusan awal yang dibuat oleh klien dan menekankan kemampuan klien
untuk membuat keputusankeputusan baru. Analisis Transactional menekankan
aspek-aspek kognitif rasional-behavioral dan berorientasi kepada peningkatan
kesadar sehingga klien akan mampu membuat keputusan-keputusan baru dan mengubah
cara hidupnya. Berne menemukan bahwa dengan menggunakan AT kliennya membuat
perubahan signifikan dalam kehidupan mereka.
B.
Hakikat Manusia
Analisis trasaksional berakar dari filosofi antideterministik. Iman
ditempatkan dalam kapasitas seseorang untuk di atas pola kebiasaan dan untuk
memilih sasaran dan perilaku baru. Ini tidak berarti bahwa mereka sama sekali
tanpa ada hal yang mempengaruhinya bisa sampai pada penentuan hidup yang
kritis. Analisis ini juga mengakui bahwa mereka dipengaruhi oleh harapan serta
tuntutan oleh orang lain yang signifikan baginya, terutama oleh karena
keputusan yang terlebih dahulu telah dibuat pada masa hidup mereka pada saat
mereka sangat bergantung pada orang lain. tetapi keputusan dapat ditinjau
kembali dan ditantang dan apabila keputusan yang telah diambil terdahulu tidak
lagi cocok, bisa dibuat keputusan.
C.
Asumsi Dasar
Pendekatan analisis transaksional berlandaskan suatu teori
kepribadian yang berkenaan dengan analisis struktural dan transaksional.
Teori ini menyajikan suatu kerangka bagi analisis terhadap tiga kedudukan ego
yang terpisah, yaitu: orang tua, dewasa, anak. Sifat kontraktual proses
terapeutik analisis transaksional cenderung mempersamakan kedudukan konselor
dan klien. Adalah menjadi tanggung jawab klie untuk menentukan apa yang akan
diubahnya. Pada dasarnya, analisis transaksional berasumsi bahwa manusia itu:
1. Manusia memiliki pilihan-pilihan dan tidak dibelenggu oleh masa
lampaunya (Manusia selalu berubah dan bebas untuk menentukan pilihanya). Ada
tiga hal yang membuat manusia selalu berubah, yaitu :
a. Manusia (klien) adalah orang yang telah cukup lama menderita”
karena itu mereka ingin bahagia dan mereka berusaha melakukan perubahan
b. Ada kebosanan, kejenuhan atau putus asa. Manusia tidak puas dengan
kehidupan yang monoton, kendatipun tidak menderita bahkan berkecukupan.
Keadaan yang monoton akan melahirkan perasaan jenuh atau bosan, karena itu
individu terdorong dan berupaya untuk melakukan perubahan.
c. Manusia bisa berubah karena adanya penemuan tiba-tiba. Hal ini
merupakan hasil AT yang dapat diamati. Banyak orang ya g pada mulanya tidak mau
atau tidak tahu dengan perubahan, tetapi dengan adanya informasi, cerita, atau
pengetahuan baru yang membuka cakrawala barunya, maka ia menjadi
bersemangat untuk menyelidiki terus dan berupaya melakukan perubahan.
2. Manusia sanggup melampaui pengondisian dan pemprograman awal
(manusia dapat berubah asalkan ia mau). Perubahan manusia itu adalah persoalan
di sini dan sekarang (here and now ). Berbeda dengan psikoanalisis, yang
cenderung deterministik, di mana sesuatu yang terjadi pada manusia sekarang
ditilik dari masa lalunya. Bagi T, manusia sekarang memiliki kehendak, karena
itu perilaku manusia sekarang adalah persoalan sekarang dan di sini.
Kendatipun ada hubunganya dengan masa lalu, tapi bukan seluruhnya perilaku hari
di ditentukan oleh pengalaman masa lalunya.
3. Manusia bisa belajar mempercayai dirinya dirinya sendiri , berpikir
dan memutuskan untuk dirinya sendiri, dan mengungkapkan perasaanpersaannya.
4. Manusia sanggup untuk tampil di luar pola-pola kebisaaan dan
menyeleksi tujuan-tujuan dan tingkah laku baru.
5. Manusia bertingkah laku dipengaruhi oleh pengharapan dan tuntutan
dari orang-orang lain.
6. Manusia dilahirkan bebas, tetapi salah satu yang pertama dipelajari
adalah berbuat sebagaimana yang diperintahkan.
D.
Teori Kepribadian
Analisis trasaksional dipandang sebagai sesuatu yang positif,
karena manusia secar filosofis dapat ditingkatkan, dikembangnkan dan diubah
secara langsung melalui proses yang aman, menggairahkan dan bahan menyenangkan.
Secara keseluruhan dasar filosofinya bermula dari asumsi bahwa semuanya OK,
artinya bahwa setiap individu perilakunya mempunyai dasar menyenangkan
dan mempunyai potensi serta keinginan untuk berkembang, dan
mengaktualisasikan diri. Sumber-sumber dari tingkah laku sebagaimana seseorang
itu melihat suatu realitas serta bagaimana mereka mengolah berbagai informasi
serta bereaksi dengan dunia pada umumnya disebut oleh Eric Berne sebagai Ego
State (Status Ego). Istilah status ego digunakan untuk menyatakan suatu sistem
perasaan dan kondisi pikiran serta berkaitan dengan pola-pola dan tingkah
lakunya. Status ego pada diri seseorang itu terbentuk berdasarkan
pengalaman-pengalaman yang diperoleh seseorang yang masih membekas pada dirinya
sejak kecil. Menurut Eric Berne behwa status ego seseorang terdiri dari
unsur-unsur sebagai berikut:
1. Orang tua (Parent)
Bila seseorang merasa dan bertingkah
laku seperti orang tua atau tokoh-tokoh terdahulu, maka ia dapatlah berada
dalam status o orang tua. Setiap orang mendapatkan berbagai bentuk pengalaman,
sikap, serta pendapat dari orang tuanya, maka dari itu berdasarkan pengalaman,
sikap serta pendapatnya yang diperoleh dari orang tuanya masing-masing, setiap
orang akan memiliki atau berada pada status ego orang tua. Status ego
orang tua itu lebih sering kita lihat dengan nyata, misalnya: membimbing,
membantu, mengarahkan, menyayangi, menasihati, mengecam, mengomando, mendikte,
dsb. Dapat pula diliha secara verbal, yaitu: harus, awas, jangan, lebih baik,
pokoknya, cepat, dsb. Selain itu dapat pula secara non-verbal, yaitu:
merangkul, membelai, menuing, mencium, melotot, dsb.
Dapat dikatakan bahwa status ego
orang tua dapat berbentuk langsung yaitu dengan menggunakan prot type, model,
tipe, dari orang tua yang baik melalui verbal maupun non-verbal. Sedangkan
dengan bentuk tidak langsung adalah merupaka petunjuk, aturan, norma, dan
nilai-nilai yang pernah didenngar dari orang tua atau tokoh terdahulu pada masa
kecil.
2.
Dewasa
(Adult) Status ego dewasa adalah bentuk tindakan seseorang yang berdasarkan
dasar pikiran yang logis, rasional, objektif, dan bertanggung jawab.
Dewasa berfungsi untuk mengumpulkan berbagai informasi, memasukkan
berbagai macam data ke dalam bank data, kem ian mempertimbangkan berbagai
bentuk kemungkinan yang ada. 3.
3.
Anak
(Child) Status ego anak adalah suatu tindakan dari sesorang yang didasarkan
pada rekasi emosional yang spontan, reaktif, humor, kreatif, serta inisiatif.
Bentuk status ego anak dapat berbentuk waja apabila terlhat bahwa tingkah
lakunya pada masa anak-anak, yaitu adanya ketergantungan pada orang lain,
spontan, bebas, agresi , tidak mau kompromi, impulsive, kreatif, ingin
tahu, merasakan berbagai bentuk penemuan baru yang berbentuk status ego
yang lain adalah pengaruh tertentu dari orang tuanya. Dengan adanya
pengaruh yang begitu melekat, maka menye abkan anak bertindak dan
bertingkah laku sesuai harapan, keinginan, dan cita-cita dari orang tuanya. Di
sini akan tampak pola anak yang , patuh, sopan, penurut, tetapi ada pula yang
menyebabkan anak mengalami penderitaan, yaitu: overprotection, manja, konflik,
st ess, frustasi. Jadi status ego anak merupakan kejadian internal pada masa
kanak-kanaknya.
E.
Tujuan Konseling
Tujuan dasar dari Analisis Transaksional adalah membantu klien
dalam membuat keputusan-keputusan baru yang menyangkut tingkah lakunya sekarang
dan arah hidupnya. Sasarannya adalah mendorong klien agar menyadari bahwa
kebebasan dirinya dalam memilih telah dibatasi oleh keputusan-keputusan dini
mengenai posisi hidupnya dan oleh pilihan terhadap cara-cara hidup yang mandul
dan determistik. Inti dari konseling adalah menggantikan gaya hidup yang
ditandai oleh permainan yang manipulatif dan oleh skenario-skenario hidup yang
mengalahkan diri, dengan gaya hidup otonom yang ditandai oleh kesadaran,
spontanitas, dan keakraban. Individu memperoleh kesadaran tentang bagaimana
kebebasannya terkekang karena keputusan awal tentang posisi hidup, dan belajar
untuk menetukan arah hidup yang lebih baik. Inti terapi ini adalah mengganti
kearah gaya hidup yang otonom yang memiliki cirri-ciri: kesadaran, spontan,
intim, dengan menggunakan game dan naskah hidup. Individu juga belajar
menulis kembali naskah hidup mereka sehingga mereka memiliki control atas hidup
mereka (Corey, 1986,p 158, dalam Komalasari G, DKK. 2011). Adapun tujuan-tujuan
khusus pendekatan ini adalah:
a. Konselor membantu konseli untuk memprogram pribadinya agar membuat ego
state berfungsi pada saat yang tepat.
b. Konseli dibantu untuk menganalisis transaksi dirinya sendiri.
c. Konseli dibantu untuk menjadi bebas dalam berbuat, bermain menjadi
orang yang mandiri dalam memiliki apa yang diinginkan.
d. Konseli dibantu untuk mengkaji keputusan salah yang telah dibuat
dan membuat keputusan baru atas dasar kesadaran.
F.
Peranan dan Fungsi Terapi
Terapis berperan sebagai guru adalah menerangkan tehnik seperti
analisis struktural, analisis transaksioanl, analisis naskah, dan analisi
permainan. Terapis membantu klien dalam rangka menemukan kondisi-kondisi yang
tidak menguntungkan, mengadaptasi rencana hidup dan mengembangakn strategi
dalam berhubungan denagn orang lain. terapis membantu klien dalam
menentukan alternatif-alternatif menyatakan tugas terapi adalah menolong klien
mendapatkan perangakt yang diperlukan untuk mendapat perubahan, menolong
klien untuk menemukan kekuatan internal mereka untuk mendapatkan perubahan
denagn jalan mengambil keputusan yang lebih cocok. Konseling analisis
transaksional didesain untuk mendapatkan insight emosional dan intelektual,
tetapi focus pada bagian rasional. Hal ini berimplikasi pada peran konselor
dalam proses konseling yang lebih banyak didaktik dan focus pada
pemikiran konseli. Menurut Harris, 1967 dalam Komalasari G, DKK. 2011)
peran konselor adalah sebagai guru, pelatih dan penyelamat dengan terlibat
secara penuh dengan konseli. Sebagai guru, konselor menjelaskan teknik-teknik
seperti analisis struktur (structural analysis), analisis transaksi, analisis
game.
G.
Hubungan Konselor-Klien
Analisis Transaksional adalah suatu bentuk terapi yang berdasarkan
kontrak. Suatu kontrak dalam Analisis Transaksional menyiratkan bahwa seseorang
akan berubah. Kontrak haruslah spesifik, ditetapkan secara jelas, dan
dinyatakan secara ringkas. Kontrak berisi tentang apa yang akan dilakukan oleh
klien, bagaimana klien akan melangkah ke arah tujuan yang telah ditetapkan, dan
klien tahu kapan kontraknya akan habis. Sebagai sesuatu yang dapat diubah-ubah,
kontrak dapat dibuat secara bertahap. Konselor akan mendukung dan bekerja
sesuai dengan kontrak. Banyak klien yang memandang konselor sebagai sumber obat
yang manjur untuk segala macam penyakit, sehingga mereka mengawali konseling
dengan sikap pasif dan dependen. Salah satu kesulitan mereka adalah
penghindaran dari kewajiban memikul tanggung jawab, dan mereka berusaha
meneruskan gaya hidupnya dengan mengalihkan tanggung jawab kepada konselor.
Pendekatan kontraktual Analisis Transaksional berlandaskan pengharapan bahwa
para klien berfokus pada tujuan-tujuan mereka dan membuat suatu komitmen.
Konselor menekankan pembagian tanggung jawab dan menyajikan suatu titik
pemberangkat dan untuk bekerja. Pendekatan kontrak dengan jelas menyiratkan
suatu tanggung jawab bersama. Dengan berbagi tanggung jawab bersama konselo ,
klien menjadi rekan treatment. Konselor tidak melakukan sesuatu kepada klien
sementara klien itu pasif. Akan tetapi, baik konselor maupun klien harus aktif
dalam kegiatan konseling tersebut. Ada beberapa implikasi yang menyangkut
hubungan konselor dan klien, yaitu:
1. Tidak ada jurang pengertian yang tidak bisa dijembatani di antara
konselor dan klien. Konselor dan klien berbagi kata-kata dan konsepkonsep yang
sama, dan keduanya memiliki pemahaman yang sama tentang situasi yang dihadapi.
2. Klien memiliki hak-hak yang sama dan penuh dalam konseling. Hal ini
berarti klien tidak bisa dipaksa untuk menyingkapkan hal-hal yang tidak
ingin diungkapkannya. Selain itu pasti klien merasa bahwa dia tidak akan
diamati atau direkam di luar pengetahuannya atau tanpa persetujuan darinya.
3. Kontrak memperkecil perbedaan status dan menekankan persamaan
diantara konselor dan klien. Pada diri konselor, seorang klien harus menemukan
“seorang manusia yang berminat memajukan pengetahuan pasien tentang dirinya
sendiri dalam seketika sehingga secepat mungkin, pasien itu bisa menjadi analis
bagi dirinya sendiri.
Inti pokok dari
AT terletak pada usaha konselor menganalisis transaksi klien dengan teknik-teknik
yang telah disebutkan diatas. Dengan demikian sikap dan peranan konselor
adalah :
1.
Berusaha
meletakkan tanggung jawab pada klien. Karena pada hakekatnya setiap individu
hendaknya bertanggung jawab atas kehidupannya, maka AT juga mengarahkan agar
pada diri klien tumbuh rasa tanggung jawab dan kemampuan untuk mengambil tang
ung jawab atas kehidupannya.
2.
Menyediakan
lingkungan yang menunjang. Untuk mencapai perubahan klien atau keseimbangan
klien, konselor berusaha sebagai penyedia fasilitas yang mendorong terjadinya
perubahan klien.
3.
Memisahkan
mitologi dengan realitas. Karena pengaruh , banyak klien dipengaruhi oleh
mitologi yang telah diadapsinya sejak lama. Dalam rangka memperbaiki kembali
(memahami kembali) skript kehidupan klien itu, konselor AT mempunyai peranan
untuk memisahkan mitologi yang berpengaruh dalam klien dengan realitas
kehidupan yang sebenarnya.
Melakukan
Konfrontasi atas keanehan yang tampak. Keanehan atau keadaan ego state klien
yang tidak seimbang dapat diperbaiki konselor dengan melakukan
konfrontasi.Konselor hendaknya bisa m mbentuk dan merekonstruksi menjadi
seimbang. Jadi, dengan melihat peranan dan sikap konselor di atas
memperlihatkan bahwa konselor dalam AT bersifat aktif dan lebih banyak
menentukan jalannya konseling.
H.
Proses Konseling
Proses Konseling/Terapi Analisis Transaksional ini dilakukan tiap
transaksi yang dianalisis. Klien yang nampaknya mengelakkan tanggung jawab
diarahkan untuk mau menerima tanggung jawab pada dirinya sehingga klien dapat
menyeimbangkan Egogramnya, mendefinisikan kembali skriptnya, serta melakukan
instrospeksi terhadap game yang dijalaninya. Tahapan Proses Konseling Analis
Transaksional.
1.
Bagian
pendahuluan digunakan untuk menentukan kontrak d ngan klien, baik mengenai
masalah maupun tanggung jawab kedua pihak.
2.
Pada
bagian kedua baru mengajarkan Klien tentang egois tenya dengan diskusi bersama
Klien.
3.
Membuat
kontrak yang dilakukan oleh klien sendiri, yang berisikan tentang apa yang akan
dilakukan oleh klien, bagaimana klien akan melangkah ke arah tujuan yang telah
ditetapkan, dan klien tahu kapan kontraknya akan habis. Kontrak berbentuk
pernyataan kl en – konselor untuk bekerja sama mencapai tujuan dan
masing-masing terikat untuk saling bertanggung jawab. Beberapa
persyaratan yang harus dipenuhi dalam kontrak, yaitu :
a.
Dalam
kontrak, konselor dan klien harus melalui transa dewasadewasa, serta ada
kesepakatan dalam menentukan tujuan-tujuan yang ingin dicapai.
b.
Kontrak
harus mempertimbangkan beberapa hal, yaitu : pertimbangan pertama yaitu konselor
memberikan layanan kepada klien secara profesional (baik berupa kesempata
maupun keahlian) pertimbangan kedua yaitu, klien memberikan imbalan jas kepada
konselor, dan menandatangani serta melaksanakan isi kontrak sesuai dengan waktu
atau jadwal yang telah ditetapkan.
c.
Kontrak
memiliki pengertian sebagai suatu bentuk kompetensi anatara dua pihak,
yaitu, konselor yang harus memiliki kecakapan untuk membantu klien dalam
mengatasi masalahnya, dan klien harus cukup umur dan matang untuk memasuki
suatu kontrak.
4.
Tujuan
dari kontrak haruslah sesuai dengan kode etik konseling.
Setelah kontrak ini selesai, baru kemudian konselor bersama klien
menggali ego state dan memperbaikinya sehingga terjadi dan tercapainya tujuan
konseling.
I.
Teknik-Teknik Konseling
Teknik-teknik konseling analisis transaksional banyak menggunakan
teknik-teknik pendekatan gestalt. James jongeward (1971) mengkombinasikan
konsep dan proses analisis transaksioanal dengan ekperimentasi Gestalt dan
kombinasi ini memberikan hasil yang menjanjikan pada self-awareness dan
autonomy (Corey, 1986,p 161, dalam Komalasari G, DKK. 2011).
1. Metode Didaktik (Didaktic Methods) Prosedur belajar dan mengajar
adalah dasar dari pendekatan ini.
2. Kursi Kosong (Empty Chair ) Teknik ini merupakan adopsi dari
pendekatan Gestalt. Teknik ini biasanya digunakan untuk structural analysis.
McNeel (1976, dalam Komalasari G, DKK. 2011) mendeskripsikan bahwa teknik yang
menggunakan dua kursi ini merupakan cara yang efektif untuk membantu konseli
mengatasi konflik masa lalu dengan orangtua atau orang lain pada masa kecil.
Tujuan teknik ini adalah untuk menyelesaikan unfinished business masa lalu
(Corey, 1986,p 164, dalam Komalasari G, DKK. 2011).
3. Bermain Peran Bermain peran (Role Play) biasanya digunakan dalam
konseling kelompok dimana melibatkan orang lain. Anggota kelompok lain dapat
berperan sebagai ego state yang bermasalah dengan konseli. Dalam kegiatan
ini konseli berlatih dengan anggota kelompok yang bertingkah laku sesuai dengan
apa yang akan diuji coba di dunia nyata. Variasi lain dapat dilakukan dengan
melebihkan karakteristik ego state tertentu untuk melihat reaksi tingkah
laku saat ini terhadap ego state tertentu (Corey, 1986,p 164, dalam
Komalasari G, DKK. 2011). d.
4. Penokohan Keluarga ( Family Modeling ) Family Modeling
adalah pendekatan untuk melakukan structural analysis, yang pada umumnya
berguna untuk menghadapi constant parents, constant adult, constant child.
Konseli diminta untuk membayangkan episode yang berisi orang-orang yang
penting baginya di masa lalu. Konseli bertindak sebagai sutradara, produser,
dan actor. Konseli mendefenisikan situasi dan menggunakan anggota kelompok
sebagai pengganti anggota keluarganya. Konseli menempatkan mereka sehingga
mengingat situasinya. Berdasarkan hasil drama ini konseli dan konselor
mendiskusikan, bertindak, dan mengevaluasi sehingga dapat meningkatkan
kesadaran tentang situasi yang spesifik dan makna personal yang masih dipegang
teguh oleh konseli. (Corey, 1986,p 164, dalam Komalasari G, DKK. 2011).
5. Analysis Ritual dan Waktu Luang (Analysis of Rituals and Pastime)
Analisis transaksional termasuk di dalamnya adalah identifikasi ritual dan
mengisi waktu luang (pastimes) yang digunakan dalam structuring of time.
Structuring of time adalah materi penting untuk diskusi dan penilaian karena
merefleksikan keputusan tentang naskah hidup tentang bagaimana
bertransaksi dengan orang laindan bagaimana mendapatkan stroke.
Individu yang memenuhi sebagian besar waktunya dengan ritual dan pastimes kemungkinan
mengalami kekurangan stroke dan kurang instimasi dalam bertransaksi
dengan orang lain.
J.
Studi Kasus
Dalam studi kasus ini, kami gunakan huruf miring untuk
menyoroti konsep Analisis transaksional dan metode yang telah digambarkan di
bagian sebelumnya. Terapisnya bernama Tony Tilney.
KLIEN
Celia datang
dan duduk dengan tegak dan kaku seolah-olah berpikir bagaimana duduk yang
baik. Ia menoleh kepada saya sambil tersenyum seperti anak yang sedang gugup.
Kesan yang langsung saya tangkap adalah seorang anak yang mencoba menjadi
dewasa. Ia seorang wanita professional di pertengahan empat puluhan yang
sudah senior dalam pekerjaan yang menuntut tanggung jawab yang sangat tinggi.
Ia menampilkan dirinya sebagai seorang yang penuh keyakinan diri dan agak
angkuh. Dalam dirinya, ia tampak cemas, tidak aman dan punya harga diri rendah.
Dengan teman-teman dan mitranya, ia sering berubah-ubah antara pemarah dan
berusaha menyenangkan orang lain.
ANALISIS NASKAH
Celia tidak
jelas dengan yang diinginkannya dari terapi ini. Saya menjelaskan
pentingnya naskah kehidupan, seperangkat keputusan yang dibuat di masa
kanak-kanak yang menetukan apa yang kita lakukan bagaimana kita memandang
dunia. Kita membuat kontrak dengan analisis naskah untuk empat sesi dan
kemudian meninjau kembali hasil yang kita tuju. Proses pembuatan kontrak ini-
meneyepakati langkah maju dan kemudian meninjau kembali dari sudut pandang yang
berbeda, sering kali diulang-ulang ketika terapi berjalan. Pembuatan kontrak
bukan proses sekali jadi melainkan diintegrasikan ke dalam keseluruhan terapi.
Setiap kajian memberikan dan memampukan kita menyesuaikan arah perawatan untuk
mecapai tujuan secepat mungkin.
Kami memulai
analisis naskah dengan melakukan kuisioner naskah, suatu cara bertanya
sistematik untuk menelusuri riwayat klien, terutama terkait pengaruh masa
kecil, relasi dengan orangtua dan situasi dan situasi keluarga. Di sini kami
juga menemukan petunjuk-petunjuk mengenai bagaimana klien bereaksi dan
keputusan masa kanak-kanak yang telah di buatnya.
Awalnya Celia
menggambarkan ibunya sebagai sosok „penyeyang‟. Ia sering memberitahu Celia
betapa ia sangat mencintai Celia. Sebagai imbalan kasih itu, ia menuntut Celia
untuk membuat ibunya bahagia, tugas yang mustahil karena ibunya yang sangat
depresi dengan menarik diri dan emosi yang meledak-ledak. Sebagai anak sulung,
Celia harus menyatukan keluarga, mengerjakan tugas rumah, menenangkan ibunya
yang meledak-ledak atau meredakan depresi ibunya ketika mengancam bunuh diri.
Ayahnya menarik diri dari keluarga, menghabiskan waktunya dengan bekerja dan
minum-minum dengan temannya. Celia berjuang dengan tugas menjadi ibu kecil dan
membuat ibunya tetap hidup, sehingga ia menjadi sangat kompoten. Ketika ia menginjak
remaja, ia mulai memberontak melawan peran ini, dan menuntut waktu untuk
dirinya. Tak lama, ayahnya meninggalkan keluarga dan ibunya bunuh diri. Saya
sekarang paham cara Celia yang sangat kaku ketika duduk pada sesi pertama
dan senyum kekanakan palsu itu. Dalam keadaan ego Anak, ia menjalankan
keputusan masa kecil bahwa ia harus melakukan banyak hal untuk orang
lain atau mereka akan mati. Untuk melakukan itu, ia harus sangat dewasa dan
efesien. Ia tak boleh membiarkan kebutuhaan dan perasaanya sendiri
merintangi, sehingga ia tak punya hak untuk merasa, menjadi dirinya
sendiri, bahkan mungkin tak punya hak untuk ada; ia hanya bias memenangkan hak
untuk ada dengan bekerja keras. Ia percaya bahwa jika orang-orang
mengatakan bahwa mereka mencintaimu, engkau harus bertanggung jawab sepenuhnya
untuk mereka. Juga dalam keadaan Anak, Celia harus berjuang dengan kemarahannya
karena tidak mendapatkan kebutuhannya dan bercampur dengan kesedihan yang
mendalam, ketidakmampuan dan perasaan bersalah yang ia rasakan (seperti
yang dilihat di masa kecilnya) karena membuat ibunya bunuh diri. Dari keadaan
ego Orangtua, ia masih menerima pesan yang memberitahunya bahwa ia belum
melakukan hal besar atau belum cukup memberikan dirinya.
Kita sekarang
bias menggambar diagram yang disebut „matriks naskah‟, yang menunjukkan
pesan naskah dari orangtuanya dan keputusan yang dibuatnya di masa
kanak-kanak yang sekarang sangat memengaruhi pikiran, perasaan, dan
perilakunya. Kami mengidentifikasi injungsi yang snagat kuat: Jangan Merasa,
Jangan Menjadi Dirimu, Jangan Menjadi Penting dan Jangan Ada dari ayahnya. Kami
juga bias memahami perilaku ibunya dengan menggunakan istilah dari aliran
Kateksis AT yang disebut simbiosis. Ibunya mencoba membuat
Celia menggunakan keadaan ego Anak Celia dan keadaan ego Orang tua dan Dewasa
dihidangkan
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah kami adalah,bahwa dalam proses pendekatan
Analisis Transaksional dibutuhkan teknik dan cara-cara yang bertahap agar
menemukan penyelesaian dalam masalah yang di hadapi, dan untuk mencapai tujuan
yang diinginkan, baik sarana tersebut berupa fisik seperti alat peraga,
administrasi, dan pergedungan di mana proses kegiatan bimbingan berlangsung,
bahkan pelaksana metode seperti pembimbing sendiri adalah termasuk metode
juga dan sarana non fisik seperti kurikulum, contoh, teladan, sikap dan
pandangan pelaksana metode.
B.
Saran
Demikianlah makalah yang sederhana
yang masih banyak kekurangan di sana sini. Oleh karena itu penulis mengharapkan
kritik dan saran yang membangun demi perbaikan makalah ini.
DAFTAR
PUSTAKA
Corey. Gerald.
(2005). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung:
Rafika Aditama Gantina Komalasari, dkk. 2011. Teori dan Teknik
Konseling. Jakarta: PT. Indeks
Rizky Putri Asridha S. Hutagalung. Psikologi Konseling. Jakarta:
Universitas Mercu Buana. Stephen Palmer. 2010. Konseling dan Psikoterapi.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar Zulisttya.blogspot.com.Mei 2012. Analisis Transaksional.