Sabtu, 26 Maret 2016

KONSELING ANALISIS TRANSAKSIONAL (AT)



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Eric Berne (1910-1970) kelahiran Montreal, Canada, adalah pelopor Analisis Transaksional (AT). Ia mulai mengembangkan AT ini sebagai terapi ketika ia  bertugas dalam Dinas Militer Amerika Serikat dan diminta untuk membuka program terapi kelompok bagi para serdadu yang mendapat gangguan emosional sebagai akibat Perang Dunia ke-2.
Berne, pada mulanya adalah seorang pengikut Freud dan melakukan praktik Psikoanalisis dalam terapi. Sebab, saat itu psikoanalisis tengah mendapat perhatian yang luar biasa. Bahkan Berne sendiri pernah mendapat kuliah psikoanalisis di Yale  Psychiatric Clinic (1936-1938) dan New York Psichoanalitical institute (1941-1943).
Analisis transaksional berevolusi dari ketidakpuasan Berne dengan lambatnya  psikoanalisis dalam menyembuhkan orang-orang dari masalah mereka. Setelah Berne  berhenti bekerja pada Dinas Militer, Berne mulai melakukan eksperimen yang sungguh-sungguh. Akhirnya pada pertengahan tahun 50-an barulah ia memperkenalkan teorinya, Analisis Transaksional. Diluar dugaan, teori ini mendapat sambutan baik dari kalangan ahli terapi kelompok, dalam pertemuan Regional Perhimpunan Terapi Kelompok Amerika di Los Angeles tahun 1957 teori ini diangkat sebagai salah satu tema yang dibahas. Tentu saja AT mulai mengundang ingin tahu banyak orang dengan prinsip-prinsip yang dikembangkannya. Prinsip- prinsip yang dikembangkan oleh Eric Berne dalam analisis transaksional adalah upaya untuk merangsang rasa tanggung jawab pribadi atas tingkah lakunya sendiri,  pemikiran logis, rasioanal, tujuan-tujuan yang realistic, berkomunikasi dengan terbuka, wajar, dan pemahaman dalam berhubungan dengan orang lain.

 
B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari penulisan makalah ini adalah :
1.      Apakah pengertian Analisis Transaksional?
2.      Bagaimana hakikat manusia?
3.      Apa asumsi Dasar?
4.      Apa saja teori Kepribadian?
5.      Apa saja tujuan Konseling?
6.      Bagaimana peranan dan fungsi terapi?
7.      Bagaimana hubungan Konselor-Klien?
8.      Bagaimana proses Konseling?
9.      Apa saja teknik-Teknik Konseling?

C.    Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memecahkan atau menjawab pertanyaan yang ada pada rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Untuk mendeskripsikan apakah pengertian Analisis Transaksional
2.      Untuk mendeskripsikan hakikat manusia
3.      Untuk mendeskripsikan asumsi Dasar
4.      Untuk mendeskripsikan saja teori Kepribadian
5.      Untuk mendeskripsikan saja tujuan Konseling
6.      Untuk mendeskripsikan peranan dan fungsi terapi
7.      Untuk mendeskripsikan hubungan Konselor-Klien
8.      Untuk mendeskripsikan proses Konseling
9.      Untuk mendeskripsikan teknik-Teknik Konseling



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Analisis Transaksional
Eric Berne (1910-1970) seorang psikiatris dan psikoanalisis, mendapatkan gelar M. D dari MCGill University di Montreal pada tahun 1953, dan menyelesaikan  pendidikan spesialis psikiater di Yale university. Pada tahun 1964 buku pertamanya Games People Play (permainan yang dimainakn orang) menjadi buku terlaris seacara internasional. Pada saat yang sama pendekatan terapeutiknya yang baru, yang mencerminkan ditinggalkannya psikoanalisis secara radikal, menjadi popler secara luas di tahun) 1960an (corey, 1995: 373). Berne mengembangkan dasar teori ananalisis transaksional pada tahun 1950an. Penemuannya tentang status ego disadari sebagai fase pertama dari sejarah perkembangan analisis transaksional. Penemuan teori tersebut berdasarkan eksperimen-eksperimen neorulogi yang menyatakan bahwa status ego yang dialaimnya individu berbeda lewat stimulus.
Secara singkat Berne mendefinisikan pengertian dari analisis transaksi sebagai: “Ein Transaktions-Stimulus plus eine Transaktions-Reaktion” (Joines dalam  Eschenmoser, 2008:23). Pernyataan ini berarti bahwa sebuah transaksi terdiri dari sebuah stimulus dan sebuah reaksi. Dengan kata lain, syarat terbentuknya sebuah transaksi adalah adanya hubungan timbal balik antara stimulus yang diungkapkan  penutur dan respon yang diungkapkan oleh lawan bicaranya. Analisis Transaksional adalah salah satu pendekatan Psychotherapy yang menekankan pada hubungan interaksional. Transaksional maksudnya ialah hubungan komunikasi antara seseorang dengan orang lain. Adapun hal yang dianalisis yaitu meliputi bagaimana bentuk cara dan isi dari komunikasi mereka. Dari hasil analisis dapat ditarik kesimpulan apakah transaksi yang terjadi berlangsung secara tepat,  benar dan wajar. Bentuk, cara dan isi komunikasi dapat menggambarkan apakah seseorang tersebut sedang mengalami masalah atau tidak.
Analisis Transaksional dapat dipergunakan untuk terapi individual, tetapi terutama untuk pendekatan kelompok. Analisis transaksional berfokus pada keputusan-keputusan awal yang dibuat oleh klien dan menekankan kemampuan klien untuk membuat keputusan baru. Analisis Transaksional (AT) merupakan psikoterapi transaksional yang dapat digunakan dalam konseling individual, tetapi lebih cocok digunakan dalam konseling kelompok. Analisis Transaksional melibatkan suatu kontrak yang dibuat oleh klien, yang dengan jelas menyatakan tujuan-tujuan dan arah proses konseling. Analisis Transaksional berfokus pada keputusan-keputusan awal yang dibuat oleh klien dan menekankan kemampuan klien untuk membuat keputusankeputusan baru. Analisis Transactional menekankan aspek-aspek kognitif rasional-behavioral dan berorientasi kepada peningkatan kesadar sehingga klien akan mampu membuat keputusan-keputusan baru dan mengubah cara hidupnya. Berne menemukan bahwa dengan menggunakan AT kliennya membuat perubahan signifikan dalam kehidupan mereka.

B.     Hakikat Manusia
Analisis trasaksional berakar dari filosofi antideterministik. Iman ditempatkan dalam kapasitas seseorang untuk di atas pola kebiasaan dan untuk memilih sasaran dan perilaku baru. Ini tidak berarti bahwa mereka sama sekali tanpa ada hal yang mempengaruhinya bisa sampai pada penentuan hidup yang kritis. Analisis ini juga mengakui bahwa mereka dipengaruhi oleh harapan serta tuntutan oleh orang lain yang signifikan baginya, terutama oleh karena keputusan yang terlebih dahulu telah dibuat pada masa hidup mereka pada saat mereka sangat bergantung pada orang lain. tetapi keputusan dapat ditinjau kembali dan ditantang dan apabila keputusan yang telah diambil terdahulu tidak lagi cocok, bisa dibuat keputusan.




C.    Asumsi Dasar
Pendekatan analisis transaksional berlandaskan suatu teori kepribadian yang  berkenaan dengan analisis struktural dan transaksional. Teori ini menyajikan suatu kerangka bagi analisis terhadap tiga kedudukan ego yang terpisah, yaitu: orang tua, dewasa, anak. Sifat kontraktual proses terapeutik analisis transaksional cenderung mempersamakan kedudukan konselor dan klien. Adalah menjadi tanggung jawab klie untuk menentukan apa yang akan diubahnya. Pada dasarnya, analisis transaksional berasumsi bahwa manusia itu:
1.      Manusia memiliki pilihan-pilihan dan tidak dibelenggu oleh masa lampaunya (Manusia selalu berubah dan bebas untuk menentukan pilihanya). Ada tiga hal yang membuat manusia selalu berubah, yaitu :
a.       Manusia (klien) adalah orang yang telah cukup lama menderita” karena itu mereka ingin bahagia dan mereka berusaha melakukan perubahan
b.      Ada kebosanan, kejenuhan atau putus asa. Manusia tidak puas dengan kehidupan yang monoton, kendatipun tidak menderita bahkan  berkecukupan. Keadaan yang monoton akan melahirkan perasaan jenuh atau bosan, karena itu individu terdorong dan berupaya untuk melakukan  perubahan.
c.       Manusia bisa berubah karena adanya penemuan tiba-tiba. Hal ini merupakan hasil AT yang dapat diamati. Banyak orang ya g pada mulanya tidak mau atau tidak tahu dengan perubahan, tetapi dengan adanya informasi, cerita, atau pengetahuan baru yang membuka cakrawala  barunya, maka ia menjadi bersemangat untuk menyelidiki terus dan  berupaya melakukan perubahan.
2.      Manusia sanggup melampaui pengondisian dan pemprograman awal (manusia dapat berubah asalkan ia mau). Perubahan manusia itu adalah persoalan di sini dan sekarang (here and now ). Berbeda dengan psikoanalisis, yang cenderung deterministik, di mana sesuatu yang terjadi pada manusia sekarang ditilik dari masa lalunya. Bagi T, manusia sekarang memiliki kehendak, karena itu  perilaku manusia sekarang adalah persoalan sekarang dan di sini. Kendatipun ada hubunganya dengan masa lalu, tapi bukan seluruhnya perilaku hari di ditentukan oleh pengalaman masa lalunya.
3.      Manusia bisa belajar mempercayai dirinya dirinya sendiri , berpikir dan memutuskan untuk dirinya sendiri, dan mengungkapkan perasaanpersaannya.
4.      Manusia sanggup untuk tampil di luar pola-pola kebisaaan dan menyeleksi tujuan-tujuan dan tingkah laku baru.
5.      Manusia bertingkah laku dipengaruhi oleh pengharapan dan tuntutan dari orang-orang lain.
6.      Manusia dilahirkan bebas, tetapi salah satu yang pertama dipelajari adalah  berbuat sebagaimana yang diperintahkan.

D.    Teori Kepribadian
Analisis trasaksional dipandang sebagai sesuatu yang positif, karena manusia secar filosofis dapat ditingkatkan, dikembangnkan dan diubah secara langsung melalui proses yang aman, menggairahkan dan bahan menyenangkan. Secara keseluruhan dasar filosofinya bermula dari asumsi bahwa semuanya OK, artinya  bahwa setiap individu perilakunya mempunyai dasar menyenangkan dan mempunyai  potensi serta keinginan untuk berkembang, dan mengaktualisasikan diri. Sumber-sumber dari tingkah laku sebagaimana seseorang itu melihat suatu realitas serta bagaimana mereka mengolah berbagai informasi serta bereaksi dengan dunia pada umumnya disebut oleh Eric Berne sebagai Ego State (Status Ego). Istilah status ego digunakan untuk menyatakan suatu sistem perasaan dan kondisi pikiran serta berkaitan dengan pola-pola dan tingkah lakunya. Status ego pada diri seseorang itu terbentuk berdasarkan pengalaman-pengalaman yang diperoleh seseorang yang masih membekas pada dirinya sejak kecil. Menurut Eric Berne behwa status ego seseorang terdiri dari unsur-unsur sebagai berikut:

1.      Orang tua (Parent)
Bila seseorang merasa dan bertingkah laku seperti orang tua atau tokoh-tokoh terdahulu, maka ia dapatlah berada dalam status o orang tua. Setiap orang mendapatkan berbagai bentuk pengalaman, sikap, serta pendapat dari orang tuanya, maka dari itu berdasarkan pengalaman, sikap serta pendapatnya yang diperoleh dari orang tuanya masing-masing, setiap orang akan memiliki atau  berada pada status ego orang tua. Status ego orang tua itu lebih sering kita lihat dengan nyata, misalnya: membimbing, membantu, mengarahkan, menyayangi, menasihati, mengecam, mengomando, mendikte, dsb. Dapat pula diliha secara verbal, yaitu: harus, awas, jangan, lebih baik, pokoknya, cepat, dsb. Selain itu dapat pula secara non-verbal, yaitu: merangkul, membelai, menuing, mencium, melotot, dsb.
Dapat dikatakan bahwa status ego orang tua dapat berbentuk langsung yaitu dengan menggunakan prot type, model, tipe, dari orang tua yang baik melalui verbal maupun non-verbal. Sedangkan dengan bentuk tidak langsung adalah merupaka petunjuk, aturan, norma, dan nilai-nilai yang pernah didenngar dari orang tua atau tokoh terdahulu pada masa kecil.
2.      Dewasa (Adult) Status ego dewasa adalah bentuk tindakan seseorang yang berdasarkan dasar  pikiran yang logis, rasional, objektif, dan bertanggung jawab. Dewasa  berfungsi untuk mengumpulkan berbagai informasi, memasukkan berbagai macam data ke dalam bank data, kem ian mempertimbangkan berbagai bentuk kemungkinan yang ada. 3.
3.      Anak (Child) Status ego anak adalah suatu tindakan dari sesorang yang didasarkan pada rekasi emosional yang spontan, reaktif, humor, kreatif, serta inisiatif. Bentuk status ego anak dapat berbentuk waja apabila terlhat bahwa tingkah lakunya  pada masa anak-anak, yaitu adanya ketergantungan pada orang lain, spontan,  bebas, agresi , tidak mau kompromi, impulsive, kreatif, ingin tahu, merasakan  berbagai bentuk penemuan baru yang berbentuk status ego yang lain adalah  pengaruh tertentu dari orang tuanya. Dengan adanya pengaruh yang begitu melekat, maka menye abkan anak  bertindak dan bertingkah laku sesuai harapan, keinginan, dan cita-cita dari orang tuanya. Di sini akan tampak pola anak yang , patuh, sopan, penurut, tetapi ada pula yang menyebabkan anak mengalami penderitaan, yaitu: overprotection, manja, konflik, st ess, frustasi. Jadi status ego anak merupakan kejadian internal pada masa kanak-kanaknya.

E.     Tujuan Konseling
Tujuan dasar dari Analisis Transaksional adalah membantu klien dalam membuat keputusan-keputusan baru yang menyangkut tingkah lakunya sekarang dan arah hidupnya. Sasarannya adalah mendorong klien agar menyadari bahwa kebebasan dirinya dalam memilih telah dibatasi oleh keputusan-keputusan dini mengenai posisi hidupnya dan oleh pilihan terhadap cara-cara hidup yang mandul dan determistik. Inti dari konseling adalah menggantikan gaya hidup yang ditandai oleh permainan yang manipulatif dan oleh skenario-skenario hidup yang mengalahkan diri, dengan gaya hidup otonom yang ditandai oleh kesadaran, spontanitas, dan keakraban. Individu memperoleh kesadaran tentang bagaimana kebebasannya terkekang karena keputusan awal tentang posisi hidup, dan belajar untuk menetukan arah hidup yang lebih baik. Inti terapi ini adalah mengganti kearah gaya hidup yang otonom yang memiliki cirri-ciri: kesadaran, spontan, intim, dengan menggunakan game dan naskah hidup. Individu juga belajar menulis kembali naskah hidup mereka sehingga mereka memiliki control atas hidup mereka (Corey, 1986,p 158, dalam Komalasari G, DKK. 2011). Adapun tujuan-tujuan khusus pendekatan ini adalah:
a.       Konselor membantu konseli untuk memprogram pribadinya agar membuat ego state berfungsi pada saat yang tepat.
b.      Konseli dibantu untuk menganalisis transaksi dirinya sendiri.
c.       Konseli dibantu untuk menjadi bebas dalam berbuat, bermain menjadi orang yang mandiri dalam memiliki apa yang diinginkan.
d.      Konseli dibantu untuk mengkaji keputusan salah yang telah dibuat dan membuat keputusan baru atas dasar kesadaran.

F.     Peranan dan Fungsi Terapi
Terapis berperan sebagai guru adalah menerangkan tehnik seperti analisis struktural, analisis transaksioanl, analisis naskah, dan analisi permainan. Terapis membantu klien dalam rangka menemukan kondisi-kondisi yang tidak menguntungkan, mengadaptasi rencana hidup dan mengembangakn strategi dalam  berhubungan denagn orang lain. terapis membantu klien dalam menentukan alternatif-alternatif menyatakan tugas terapi adalah menolong klien mendapatkan  perangakt yang diperlukan untuk mendapat perubahan, menolong klien untuk menemukan kekuatan internal mereka untuk mendapatkan perubahan denagn jalan mengambil keputusan yang lebih cocok. Konseling analisis transaksional didesain untuk mendapatkan insight emosional dan intelektual, tetapi focus pada bagian rasional. Hal ini berimplikasi pada peran konselor dalam proses konseling yang lebih banyak didaktik dan focus pada  pemikiran konseli. Menurut Harris, 1967 dalam Komalasari G, DKK. 2011) peran konselor adalah sebagai guru, pelatih dan penyelamat dengan terlibat secara penuh dengan konseli. Sebagai guru, konselor menjelaskan teknik-teknik seperti analisis struktur (structural analysis), analisis transaksi, analisis game.

G.    Hubungan Konselor-Klien
Analisis Transaksional adalah suatu bentuk terapi yang berdasarkan kontrak. Suatu kontrak dalam Analisis Transaksional menyiratkan bahwa seseorang akan  berubah. Kontrak haruslah spesifik, ditetapkan secara jelas, dan dinyatakan secara ringkas. Kontrak berisi tentang apa yang akan dilakukan oleh klien, bagaimana klien akan melangkah ke arah tujuan yang telah ditetapkan, dan klien tahu kapan kontraknya akan habis. Sebagai sesuatu yang dapat diubah-ubah, kontrak dapat dibuat secara bertahap. Konselor akan mendukung dan bekerja sesuai dengan kontrak. Banyak klien yang memandang konselor sebagai sumber obat yang manjur untuk segala macam penyakit, sehingga mereka mengawali konseling dengan sikap pasif dan dependen. Salah satu kesulitan mereka adalah penghindaran dari kewajiban memikul tanggung jawab, dan mereka berusaha meneruskan gaya hidupnya dengan mengalihkan tanggung jawab kepada konselor. Pendekatan kontraktual Analisis Transaksional berlandaskan pengharapan bahwa para klien berfokus pada tujuan-tujuan mereka dan membuat suatu komitmen. Konselor menekankan pembagian tanggung jawab dan menyajikan suatu titik pemberangkat dan untuk bekerja. Pendekatan kontrak dengan jelas menyiratkan suatu tanggung jawab bersama. Dengan berbagi tanggung jawab bersama konselo , klien menjadi rekan treatment. Konselor tidak melakukan sesuatu kepada klien sementara klien itu pasif. Akan tetapi, baik konselor maupun klien harus aktif dalam kegiatan konseling tersebut. Ada  beberapa implikasi yang menyangkut hubungan konselor dan klien, yaitu:
1.      Tidak ada jurang pengertian yang tidak bisa dijembatani di antara konselor dan klien. Konselor dan klien berbagi kata-kata dan konsepkonsep yang sama, dan keduanya memiliki pemahaman yang sama tentang situasi yang dihadapi.
2.      Klien memiliki hak-hak yang sama dan penuh dalam konseling. Hal ini  berarti klien tidak bisa dipaksa untuk menyingkapkan hal-hal yang tidak ingin diungkapkannya. Selain itu pasti klien merasa bahwa dia tidak akan diamati atau direkam di luar pengetahuannya atau tanpa persetujuan darinya.
3.      Kontrak memperkecil perbedaan status dan menekankan persamaan diantara konselor dan klien. Pada diri konselor, seorang klien harus menemukan “seorang manusia yang berminat memajukan pengetahuan pasien tentang dirinya sendiri dalam seketika sehingga secepat mungkin, pasien itu bisa menjadi analis bagi dirinya sendiri.
Inti pokok dari AT terletak pada usaha konselor menganalisis transaksi klien dengan teknik-teknik yang telah disebutkan diatas. Dengan demikian sikap dan  peranan konselor adalah :
1.      Berusaha meletakkan tanggung jawab pada klien. Karena pada hakekatnya setiap individu hendaknya bertanggung jawab atas kehidupannya, maka AT juga mengarahkan agar pada diri klien tumbuh rasa tanggung jawab dan kemampuan untuk mengambil tang ung jawab atas kehidupannya.
2.      Menyediakan lingkungan yang menunjang. Untuk mencapai perubahan klien atau keseimbangan klien, konselor berusaha sebagai penyedia fasilitas yang mendorong terjadinya perubahan klien.
3.      Memisahkan mitologi dengan realitas. Karena pengaruh , banyak klien dipengaruhi oleh mitologi yang telah diadapsinya sejak lama. Dalam rangka memperbaiki kembali (memahami kembali) skript kehidupan klien itu, konselor AT mempunyai peranan untuk memisahkan mitologi yang  berpengaruh dalam klien dengan realitas kehidupan yang sebenarnya.
Melakukan Konfrontasi atas keanehan yang tampak. Keanehan atau keadaan ego state klien yang tidak seimbang dapat diperbaiki konselor dengan melakukan konfrontasi.Konselor hendaknya bisa m mbentuk dan merekonstruksi menjadi seimbang. Jadi, dengan melihat peranan dan sikap konselor di atas memperlihatkan bahwa konselor dalam AT bersifat aktif dan lebih banyak menentukan jalannya konseling.

H.    Proses Konseling
Proses Konseling/Terapi Analisis Transaksional ini dilakukan tiap transaksi yang dianalisis. Klien yang nampaknya mengelakkan tanggung jawab diarahkan untuk mau menerima tanggung jawab pada dirinya sehingga klien dapat menyeimbangkan Egogramnya, mendefinisikan kembali skriptnya, serta melakukan instrospeksi terhadap game yang dijalaninya. Tahapan Proses Konseling Analis Transaksional.
1.      Bagian pendahuluan digunakan untuk menentukan kontrak d ngan klien, baik mengenai masalah maupun tanggung jawab kedua pihak.
2.      Pada bagian kedua baru mengajarkan Klien tentang egois tenya dengan diskusi bersama Klien.
3.      Membuat kontrak yang dilakukan oleh klien sendiri, yang berisikan tentang apa yang akan dilakukan oleh klien, bagaimana klien akan melangkah ke arah tujuan yang telah ditetapkan, dan klien tahu kapan kontraknya akan habis. Kontrak berbentuk pernyataan kl en – konselor untuk bekerja sama mencapai tujuan dan masing-masing terikat untuk saling bertanggung jawab. Beberapa  persyaratan yang harus dipenuhi dalam kontrak, yaitu :
a.       Dalam kontrak, konselor dan klien harus melalui transa dewasadewasa, serta ada kesepakatan dalam menentukan tujuan-tujuan yang ingin dicapai.
b.      Kontrak harus mempertimbangkan beberapa hal, yaitu : pertimbangan  pertama yaitu konselor memberikan layanan kepada klien secara  profesional (baik berupa kesempata maupun keahlian) pertimbangan kedua yaitu, klien memberikan imbalan jas kepada konselor, dan menandatangani serta melaksanakan isi kontrak sesuai dengan waktu atau  jadwal yang telah ditetapkan.
c.       Kontrak memiliki pengertian sebagai suatu bentuk kompetensi anatara dua  pihak, yaitu, konselor yang harus memiliki kecakapan untuk membantu klien dalam mengatasi masalahnya, dan klien harus cukup umur dan matang untuk memasuki suatu kontrak.
4.      Tujuan dari kontrak haruslah sesuai dengan kode etik konseling.
Setelah kontrak ini selesai, baru kemudian konselor bersama klien menggali ego state dan memperbaikinya sehingga terjadi dan tercapainya tujuan konseling.

I.       Teknik-Teknik Konseling
Teknik-teknik konseling analisis transaksional banyak menggunakan teknik-teknik pendekatan gestalt. James jongeward (1971) mengkombinasikan konsep dan proses analisis transaksioanal dengan ekperimentasi Gestalt dan kombinasi ini memberikan hasil yang menjanjikan pada self-awareness dan autonomy (Corey, 1986,p 161, dalam Komalasari G, DKK. 2011).
1.      Metode Didaktik (Didaktic Methods) Prosedur belajar dan mengajar adalah dasar dari pendekatan ini.  
2.      Kursi Kosong (Empty Chair ) Teknik ini merupakan adopsi dari pendekatan Gestalt. Teknik ini biasanya digunakan untuk structural analysis. McNeel (1976, dalam Komalasari G, DKK. 2011) mendeskripsikan bahwa teknik yang menggunakan dua kursi ini merupakan cara yang efektif untuk membantu konseli mengatasi konflik masa lalu dengan orangtua atau orang lain pada masa kecil. Tujuan teknik ini adalah untuk menyelesaikan unfinished business masa lalu (Corey, 1986,p 164, dalam Komalasari G, DKK. 2011).
3.      Bermain Peran Bermain peran (Role Play) biasanya digunakan dalam konseling kelompok dimana melibatkan orang lain. Anggota kelompok lain dapat berperan sebagai ego state yang bermasalah dengan konseli. Dalam kegiatan ini konseli berlatih dengan anggota kelompok yang bertingkah laku sesuai dengan apa yang akan diuji coba di dunia nyata. Variasi lain dapat dilakukan dengan melebihkan karakteristik ego state tertentu untuk melihat reaksi tingkah laku saat ini terhadap ego state tertentu (Corey, 1986,p 164, dalam Komalasari G, DKK. 2011). d.
4.      Penokohan Keluarga ( Family Modeling )  Family Modeling adalah pendekatan untuk melakukan  structural analysis, yang pada umumnya berguna untuk menghadapi constant parents, constant adult, constant child. Konseli diminta untuk membayangkan episode yang  berisi orang-orang yang penting baginya di masa lalu. Konseli bertindak sebagai sutradara, produser, dan actor. Konseli mendefenisikan situasi dan menggunakan anggota kelompok sebagai pengganti anggota keluarganya. Konseli menempatkan mereka sehingga mengingat situasinya. Berdasarkan hasil drama ini konseli dan konselor mendiskusikan, bertindak, dan mengevaluasi sehingga dapat meningkatkan kesadaran tentang situasi yang spesifik dan makna personal yang masih dipegang teguh oleh konseli. (Corey, 1986,p 164, dalam Komalasari G, DKK. 2011).
5.      Analysis Ritual dan Waktu Luang (Analysis of Rituals and Pastime) Analisis transaksional termasuk di dalamnya adalah identifikasi ritual dan mengisi waktu luang (pastimes) yang digunakan dalam structuring of time. Structuring of time adalah materi penting untuk diskusi dan penilaian karena merefleksikan keputusan tentang naskah hidup tentang bagaimana  bertransaksi dengan orang laindan bagaimana mendapatkan stroke. Individu yang memenuhi sebagian besar waktunya dengan ritual dan pastimes kemungkinan mengalami kekurangan stroke dan kurang instimasi dalam  bertransaksi dengan orang lain.

J.      Studi Kasus
Dalam studi kasus ini, kami gunakan huruf miring  untuk menyoroti konsep Analisis transaksional dan metode yang telah digambarkan di bagian sebelumnya. Terapisnya bernama Tony Tilney.

KLIEN
Celia datang dan duduk dengan tegak dan kaku seolah-olah berpikir  bagaimana duduk yang baik. Ia menoleh kepada saya sambil tersenyum seperti anak yang sedang gugup. Kesan yang langsung saya tangkap adalah seorang anak yang mencoba menjadi dewasa. Ia seorang wanita professional di pertengahan empat  puluhan yang sudah senior dalam pekerjaan yang menuntut tanggung jawab yang sangat tinggi. Ia menampilkan dirinya sebagai seorang yang penuh keyakinan diri dan agak angkuh. Dalam dirinya, ia tampak cemas, tidak aman dan punya harga diri rendah. Dengan teman-teman dan mitranya, ia sering berubah-ubah antara pemarah dan berusaha menyenangkan orang lain.

ANALISIS NASKAH
Celia tidak jelas dengan yang diinginkannya dari terapi ini. Saya menjelaskan  pentingnya naskah kehidupan, seperangkat keputusan yang dibuat di masa kanak-kanak yang menetukan apa yang kita lakukan bagaimana kita memandang dunia. Kita membuat kontrak dengan analisis naskah untuk empat sesi dan kemudian meninjau kembali hasil yang kita tuju. Proses pembuatan kontrak ini- meneyepakati langkah maju dan kemudian meninjau kembali dari sudut pandang yang berbeda, sering kali diulang-ulang ketika terapi berjalan. Pembuatan kontrak bukan proses sekali jadi melainkan diintegrasikan ke dalam keseluruhan terapi. Setiap kajian memberikan dan memampukan kita menyesuaikan arah perawatan untuk mecapai tujuan secepat mungkin.
Kami memulai analisis naskah dengan melakukan kuisioner naskah, suatu cara bertanya sistematik untuk menelusuri riwayat klien, terutama terkait pengaruh masa kecil, relasi dengan orangtua dan situasi dan situasi keluarga. Di sini kami juga menemukan petunjuk-petunjuk mengenai bagaimana klien bereaksi dan keputusan masa kanak-kanak yang telah di buatnya.
Awalnya Celia menggambarkan ibunya sebagai sosok „penyeyang‟. Ia sering memberitahu Celia betapa ia sangat mencintai Celia. Sebagai imbalan kasih itu, ia menuntut Celia untuk membuat ibunya bahagia, tugas yang mustahil karena ibunya yang sangat depresi dengan menarik diri dan emosi yang meledak-ledak. Sebagai anak sulung, Celia harus menyatukan keluarga, mengerjakan tugas rumah, menenangkan ibunya yang meledak-ledak atau meredakan depresi ibunya ketika mengancam bunuh diri. Ayahnya menarik diri dari keluarga, menghabiskan waktunya dengan bekerja dan minum-minum dengan temannya. Celia berjuang dengan tugas menjadi ibu kecil dan membuat ibunya tetap hidup, sehingga ia menjadi sangat kompoten. Ketika ia menginjak remaja, ia mulai memberontak melawan peran ini, dan menuntut waktu untuk dirinya. Tak lama, ayahnya meninggalkan keluarga dan ibunya bunuh diri. Saya sekarang paham cara Celia yang sangat kaku ketika duduk pada sesi  pertama dan senyum kekanakan palsu itu. Dalam keadaan ego Anak, ia menjalankan keputusan masa kecil  bahwa ia harus melakukan banyak hal untuk orang lain atau mereka akan mati. Untuk melakukan itu, ia harus sangat dewasa dan efesien. Ia tak  boleh membiarkan kebutuhaan dan perasaanya sendiri merintangi, sehingga ia tak  punya hak untuk merasa, menjadi dirinya sendiri, bahkan mungkin tak punya hak untuk ada; ia hanya bias memenangkan hak untuk ada dengan bekerja keras. Ia  percaya bahwa jika orang-orang mengatakan bahwa mereka mencintaimu, engkau harus bertanggung jawab sepenuhnya untuk mereka. Juga dalam keadaan Anak, Celia harus berjuang dengan kemarahannya karena tidak mendapatkan kebutuhannya dan  bercampur dengan kesedihan yang mendalam, ketidakmampuan dan perasaan  bersalah yang ia rasakan (seperti yang dilihat di masa kecilnya) karena membuat ibunya bunuh diri. Dari keadaan ego Orangtua, ia masih menerima pesan yang memberitahunya bahwa ia belum melakukan hal besar atau belum cukup memberikan dirinya.
Kita sekarang bias menggambar diagram yang disebut „matriks naskah‟, yang menunjukkan  pesan naskah dari orangtuanya dan keputusan yang dibuatnya di masa kanak-kanak yang sekarang sangat memengaruhi pikiran, perasaan, dan perilakunya. Kami mengidentifikasi injungsi yang snagat kuat: Jangan Merasa, Jangan Menjadi Dirimu, Jangan Menjadi Penting dan Jangan Ada dari ayahnya. Kami juga bias memahami perilaku ibunya dengan menggunakan istilah dari aliran Kateksis  AT yang disebut  simbiosis. Ibunya mencoba membuat Celia menggunakan keadaan ego Anak Celia dan keadaan ego Orang tua dan Dewasa dihidangkan


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah kami adalah,bahwa dalam proses pendekatan Analisis Transaksional dibutuhkan teknik dan cara-cara yang bertahap agar menemukan penyelesaian dalam masalah yang di hadapi, dan untuk mencapai tujuan yang diinginkan, baik sarana tersebut berupa fisik seperti alat peraga, administrasi, dan pergedungan di mana proses kegiatan bimbingan berlangsung,  bahkan pelaksana metode seperti pembimbing sendiri adalah termasuk metode  juga dan sarana non fisik seperti kurikulum, contoh, teladan, sikap dan  pandangan pelaksana metode.
B.     Saran
Demikianlah makalah yang sederhana yang masih banyak kekurangan di sana sini. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Corey. Gerald. (2005). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung:

Rafika Aditama Gantina Komalasari, dkk. 2011. Teori dan Teknik Konseling. Jakarta: PT. Indeks



Rizky Putri Asridha S. Hutagalung. Psikologi Konseling. Jakarta: Universitas Mercu Buana. Stephen Palmer. 2010. Konseling dan Psikoterapi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Zulisttya.blogspot.com.Mei 2012. Analisis Transaksional.